hit counter

Rabu, 14 Desember 2011

Sudah Seminggu tidak Bertegur Sapa dengan Istri



Oleh Al Ustadz Dzulqarnain bin Muhammad Sunusi



Assalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarokaatuh

Ustadz Abu Muhammad Hafizhokumulloh, Mohon nasihat, ada ikhwan yang baru nikah 3 bulan, sekarang ia tidak bertegur sapa dengan istrinya sudah seminggu. Permasalahan yang disampaikan dari Istrinya kepada istri ana, karena masakannya nggak enak. Sehingga ikhwan ini kelihatan malas dan beberapa jadwal ta’lim pun tidak menghadirinya. Jazaakumullohu khoiron katsiro.

 
Jawab:
Wa’alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh 
Al-Akh Fulan (nama samaran) -semoga selalu dalam bimbingan dan cahaya-Nya-, ada beberapa hal yang mungkin kita saling bernasehat dengannya:
 
Pertama, Masalah yang terjadi antara sepasang suami-istri kadang tergolong masalah riskan yang kita harus berhati-hati dalam menyikapinya. Karena kalau kita salah dalam memberi solusi atau dalam menyampaikannya maka kadang akan membuat jalinan benang semakin kusut.
 
Dua, Tidak semua masalah yang kita dengar pasangan suami-istri harus kita tanggapi. Bahkan seharusnya, ana menyarankan sang istri untuk lebih banyak bersabar. Memang demikian liku-liku berumah tangga, dan perahu tidak selamanya berlayar di atas samudra yang tenang tanpa ada ombak maupun badai.
 
Tiga, Yang banyak memicu terjadinya masalah dalam rumah tangga adalah sikap merasa sempurna dan tidak ada kekurangan. Padahal semua manusia ada kekurangan, karena itu butuh saling pengertian dan kedewasaan dalam memahami, memperbaiki dan menyempurkan kekurangan pasangan hidup yang Allah telah pilih untuk kita. Allah telah mengingatkan,
“Dan bergaullah dengan mereka (para istri) secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (An-Nisa`: 19)
Dan Nabi shollallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,
“Sesungguhnya manusia itu seperti seratus onta. Hampir seseorang tidak menemukan tunggangan yang cocok darinya.” (Dikeluarkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)
 
Dari keindahan fiqih Imam Muslim, beliau membawakan riwayat di atas pada akhir bab keutamaan para shohabat. Beliau ingin menjelaskan bahwa manusia itu punya kelebihan masing-masing dan ada kekurangan.
Empat, Masalah sang suami jarang taklim tidak boleh dikaitkan dengan masalah keluarganya. Kalau kita melihat saudara kita jarang menghadiri taklim, maka hendaknya kita menasehatinya dengan cara yang baik dan wejangan yang membawa manfaat untuknya. Wallahu A’lam.

Sumber : dikirim via email (milis Nashihah) oleh Al Ustadz Dzulqarnain bin Muhammad Sunusi)

Ads

Dari Abu Qilabah Rahimahullah, beliau berkata:
"Tidak ada seorang yang mengadakan kebid’ahan melainkan suatu saat dia akan menganggap halal menghunus pedang (menumpahkan darah kaum muslimin, atau memberontak pada pemerintah)"
(Al I’tisham 1/112, Ad Darimi 1/58 no 99)



"Ayyub Rahimahullah biasa menamakan ahli bid’ah dengan khawarij. Beliau mengatakan sesungguhnya orang-orang khawarij itu hanya berbeda dalam hal nama dan julukan namun mereka bersepakat dalam menghalalkan darah kaum muslimin."
(Al I’tisham 1/113)




Imam Al Barbahari Rahimahullah mengatakan:
"Ketahuilah sesungguhnya hawa (kebid’ahan) itu semuanya rendah
dan selalu mengajak kepada pedang (pertumpahan darah, pemberontakan)"
(Syarhus Sunnah hal 122)




Ada seseorang yang berkata pada Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma : "Segala puji hanya bagi Allah yang telah menjadikan hawa nafsu kami berjalan di atas hawa nafsu kalian (yakni para shahabat)".


Ibnul Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma segera menimpali : "Sesungguhnya Allah tidak menjadikan kebaikan sedikitpun di dalam hawa nafsu itu. Ia dinamakan hawa karena ia menjerumuskan pemiliknya ke dalam neraka"
(Asy Syarhu Wal Ibanah hal 123 no 62)

Dinukil dari Kitab Lammud Durril Mantsur minal Qoulil Matsur
Karya Abu Abdillah Jamal bin Furaihan Al Haritsi