hit counter

Rabu, 14 Desember 2011

Pakaian Untuk Si Buah Hati

Bismillaah..

Oleh: Asy-Syaikh Muhammad ibn Shâlih Al-’Utsaimîn rahimahullâh
 
                                                                                     Soal:
Sebagian wanita, semoga Allah memberikan hidayah kepada mereka, memakaikan pakaian pendek yang memperlihatkan betis kepada anak-anak putri mereka. Ketika kami menasehati mereka, mereka mengatakan, “Kami pun mengenakan pakaian yang serupa sewaktu kami masih anak-anak, namun tidak membahayakan kami ketika kami dewasa.” Apa pendapat Anda tentang perkara ini?




Jawab:

Saya berpendapat, tidak sepantasnya seseorang memakaikan pakaian seperti itu kepada putrinya meskipun ia masih kecil. Sebab, jika ia tumbuh terbiasa dengan pakaian tersebut, maka ia akan melekat dengannya (tetap memakainya) dan akan menganggapnya sebagai perkara yang sepele. Namun, jika kalian mendidiknya dengan baik untuk berhias dengan rasa malu sejak dini, maka ia akan terus terbiasa dengan keadaan ini hingga ia dewasa.
Saya nasehatkan kepada saudari-saudariku kaum muslimah agar meninggalkan pakaian orang-orang asing yang merupakan musuh-musuh agama, membiasakan anak-anak mereka untuk memakai pakaian yang menutupi tubuh (‘aurat -pent.) mereka, dan mengajari mereka untuk berhias dengan rasa malu, karena malu adalah bagian dari îmân.


Syaikh Ibnu ‘Utsaimîn, Fatâwâ al-Mar’ah
(Diterjemahkan dari http://fatwa-online.com/fataawa/womensissues/clothing/0000206_27.htm untuk http://akhwat.web.id)
http://anakmuslim.wordpress.com/2010/11/20/pilihlah-pakaian-untuk-putrimu/

Ads

Dari Abu Qilabah Rahimahullah, beliau berkata:
"Tidak ada seorang yang mengadakan kebid’ahan melainkan suatu saat dia akan menganggap halal menghunus pedang (menumpahkan darah kaum muslimin, atau memberontak pada pemerintah)"
(Al I’tisham 1/112, Ad Darimi 1/58 no 99)



"Ayyub Rahimahullah biasa menamakan ahli bid’ah dengan khawarij. Beliau mengatakan sesungguhnya orang-orang khawarij itu hanya berbeda dalam hal nama dan julukan namun mereka bersepakat dalam menghalalkan darah kaum muslimin."
(Al I’tisham 1/113)




Imam Al Barbahari Rahimahullah mengatakan:
"Ketahuilah sesungguhnya hawa (kebid’ahan) itu semuanya rendah
dan selalu mengajak kepada pedang (pertumpahan darah, pemberontakan)"
(Syarhus Sunnah hal 122)




Ada seseorang yang berkata pada Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma : "Segala puji hanya bagi Allah yang telah menjadikan hawa nafsu kami berjalan di atas hawa nafsu kalian (yakni para shahabat)".


Ibnul Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma segera menimpali : "Sesungguhnya Allah tidak menjadikan kebaikan sedikitpun di dalam hawa nafsu itu. Ia dinamakan hawa karena ia menjerumuskan pemiliknya ke dalam neraka"
(Asy Syarhu Wal Ibanah hal 123 no 62)

Dinukil dari Kitab Lammud Durril Mantsur minal Qoulil Matsur
Karya Abu Abdillah Jamal bin Furaihan Al Haritsi